[ONESHOT] DÉJÀ VU

bookshelf1

.

.

.

Pertama kali aku melihatnya adalah ketika aku mengunjungi perpustakaan di pusat kota. Pembawaannya tenang dengan garis wajah berbentuk bulat telur. Cara ia duduk dan membaca juga mencerminkan bukan seperti seorang wanita kebanyakan.

Pada awalnya aku hanya memperhatikannya secara tersembunyi. Entah ada magnet apa yang membuat aku selalu tergerak untuk melihatnya. Perempuan itu selalu duduk sudut area dekat deretan buku berbahasa Belanda.

Perpustakaan kota ini memang lengkap. Gedungnya peninggalan jaman Belanda. Dulunya dipakai sebagai salah satu kantor utama administrasi kota di jaman sebelum kemerdekaan. Sehingga tidak aneh jika masih ada koleksi penginggalannya berupada buku tua.

Aku pernah sesekali menjelajah ke bagian tempat buku – buku itu ditaruh. Namun tidak sampai sepuluh menit aku sudah tidak tahan. Terlalu banyak debu dan aku bisa bersin dengan jeda per lima detik sekali. Lagipula aku juga tidak paham bahasa Belanda jadi kupikir akan buang waktu jika tetap berada di sana.

Seperti layaknya perpustakaan pada umumnya, juga disediakan meja dan kursi panjang untuk pengunjung yang ingin membaca di tempat. Tak terkecuali di sini. Bangunan ini berasitektur kuno. Jika dilihat sepintas akan terlihat seperti Gereja kuno lengkap dengan atap tinggi dan jendela besar mengeliligi semua ruangan.

Sejatinya semua ruangan akan terkena sinar matahari dengan jendela sebesar itu. Namun ternyata area sudut dekat rak buku Belanda itu tetaplah teduh dengan hawa yang sejuk. Aku suka sekali duduk di dekat situ. Dan ternyata perempuan itu juga mempunyai pemikiran yang sama.

Aku selalu ke perpustaan tiga kali dalam seminggu. Kebetulan tugas tesis akhirku membutuhkan banyak riset. Dan perpustakaan ini seakan mengulurkan tangan tak kasat matanya padaku untuk membantu mencari bahan referensi riset tersebut.

Mengapa aku tidak mengandalkan internet di jaman canggih seperti ini? Entahlah aku lebih suka dengan cara manual. Komputerku hanya kugunakan untuk pengetikannya saja. Ada sih yang aku cari melalui internet namun itu hanya sepersekian persen dari total keseluruhan riset.

Hari ini Jum’at dan aku kembali mengunjungi perpustakaan untuk melanjutkan risetku. Aku menuju meja favoritku yang menghadap ke jendela luar. Kusiapkan laptopku kemudian menaruh beberapa buku di sampingnya.

Ketika aku sedang menyalakan laptop, tiba – tiba seseorang menghampiriku. “Boleh aku duduk di sini?” suaranya lembut sekali dengan nada yang sopan namun cenderung kaku. Seperti sangat berhati – hati sebelum bertanya.

“Tentu saja boleh.” Aku menyunggingkan senyum manisku sembari menarikkan kursi untuknya di sebelahku. Kutamati cara ia duduk dan rasa penasaranku semakin bertambah. Ia mengucapkan terima kasih dengan pelan.

Bagaimana cara ia mendudukan diri kemudian bagaimana cara ia duduk seperti seseorang yang berasal dari keluarga ningrat jawa. Aku sedikit banyak tahu karena aku pernah melihat acara keraton yang disiarkan di televisi.

Perempuan itu kemudian menatapku dengan ramah kemudian tersenyum. Jika dari jauh ia sudah terlihat manis dan anggun maka dari jarak dekat ia terlihat sangat menarik. Namun aku seperti familiar dengan wajahnya.

“Aku tahu kamu selalu memperhatikanku. Dan aku jadi penasaran denganmu?” ucapnya membuka percakapan.

“Oh ya? Maafkan aku jika terkesan tidak sopan. Aku hanya penasaran saja mengapa kamu selalu duduk di sudut ruangan temaram itu?” aku merujuk pada kursi di dekat rak buku kuno. Ia hanya tersenyum. kemudian menggeleng kecil.

“Aku hanya tidak suka berada dalam pusat perhatian,” ia mengambil buku yang aku taruh di atas meja, “Kau sedang membaca apa? Aku lihat kamu selalu berkutat dengan buku yang sama.”

“Aku sedang melakukan riset untuk tugas akhir pendidikanku.” Kemudian aku menjelaskan padanya tentang apa yang aku kerjakan, di mana aku kuliah dan segala yang berhubungan dengan riset kecilku.

Dia memandangku dengan takjub. “Kamu hebat sekali. Ceritakan padaku bagaimana rasanya menjadi wanita modern?”

Kali ini aku yang berbalik menatapnya dengan pandangan bertanya. “Modern?”

“Iya di jaman merdeka seperti ini dan dengan alat bantu yang sangat hebat.” Ia menunjuk laptopku.

Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaanya. “Memang ini jaman canggih namun bukan berarti semua pemikiran masyarakatnya juga ikut canggih.” Sepertinya ia menangkap nada bicaraku yang sedikit sarkas.

“Lanjutkan,” pintanya. “Jelaskan padaku.”

Kemudian aku bercerita tentang bagaimana orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah. Tidak perlu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. “Takut apabila banyak laki – laki yang minder.”

Ia hanya mengangguk menunjukkan pemahaman. “Tidak kusangka ternyata hal seperti itu masih berlaku ya,” ia tersenyum kemudian sedikit membenarkan ikat sanggul kecilnya. Lebih mirip cepol namun ini ditata dengan anggun.

“Yah begitulah. Karena ini Indonesia, Negara demokrasi namun masih banyak dipimpin oleh pikiran dan adat ketimuran yang khas,” jawabku.

“Sebenarnya tidak masalah, aku justru bangga dengan hal itu karena kita tidak seperti kacang lupa kulit, namun menurutku lebih bijak jika tidak semua hal harus dikaitkan atau lebih tepatnya berlandaskan atas dua hal tersebut.” Aku mengakhiri pendapatku dengan sedikit rasa lega. Seperti telah mencurahkan isi hati dengan orang yang tepat.

Perempuan itu menatapku dengan pandangan kagum. “Paling tidak kamu masih bisa menentukan arah hidupmu sendiri. Tidak perlu terlalu terikat adat dan masih bisa untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi tanpa perlu cepat – cepat untuk dinikahkan,” ia mengakhiri kalimatnya dengan pandangan menerawang.

Aku perhatikan memang sepertinya perempuan ini bukan perempuan kebanyakan. Mataku mulai memperhatikan dirinya lebih detail. Pakaian yang dipakainya meskipun sederhana namun terlihat rapi dengan model yang cukup resmi; Blus putih dengan rok batik.

“Apakah kamu suka menulis?” tanyanya.

“Menulis apa?”

“Menulis surat mungkin?”

Menulis surat sepertinya sudah sedikit ketinggalan jaman. Namun melihat rasa ketertarikan yang kuat dalam dirinya akan jawabanku, aku jadi tidak enak jika ingin sedikit bercanda dengannya. “Dulu aku sering melakukannya. Berkirim surat dengan para temanku di luar pulau. Namun karena sekarang teknologi sudah maju aku menjadi jarang melakukannya.” Nyaris tidak pernah seru batinku.

“Oh begitu. Aku sering berkirim surat dengan teman – temanku di Belanda.” Ia lalu bercerita mengenai perkenalannya dengan dengan banyak orang Belanda. Bagaimana ayahnya yang seorang tuan tanah mempunyai banyak koneksi yang luas.

Dan itulah alasan mengapa ia sering sekali ke perpustakaan ini. Ia merasa seperti dekat dengan mereka. “Memangnya kamu berasal dari daerah mana?” aku tidak bisa membendung rasa penasaranku.

Perempuan itu hanya tersenyum namun tidak menjawab. “Sudah sore. Aku harus pergi.” Ia segera berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.

“Terima kasih, senang mengobrol denganmu.”

Aku menyambut uluran tangannya. Halus dan hangat. “Ratri. Namaku Ratri.”

“Sampai berjumpa kembali Ratri. Kamu perempuan yang hebat, jangan pernah menyerah. Selalu akan ada cahaya setelah kegelapan.” Ia menggenggam tanganku erat sembari tersenyum.

Kemudian ia bergegas pergi melalui pintu samping perpustakaan. Aroma parfum lembutnya masih menguar di udara. Harum mawar.

Seakan seperti habis terhipnotis,  aku tersentak kembali ke dunia nyata. Dengan posisi masih berdiri kaku seperti orang linglung yang lupa akan kejadian yang baru saja dialaminya, aku segera berlari menuju pintu samping tersebut.

Ketika aku melangkah keluar, sayup – sayup terdengar adzan Maghrib mulai berkumandang. Aku berjalan menuju pos penjagaan di ujung pintu masuk utama.

“Sore Pak, mohon maaf saya mau bertanya, apakah bapak melihat seorang perempuan keluar dari sini kira – kira sepuluh menit yang lalu?” aku menunjuk ke arah pintu samping perpustakaan.

“Perempuan?” tanya Bapak itu. Ia mengenakan seragam sekuriti lengkap berwarna hitam dan putih.

Aku mengangguk. “Perempuan dengan baju putih dan rok batik.”

Bapak itu mengernyitkan dahi ketika melihatku. Kemudian tatapan matanya berangsur paham. “Apakah ia bersanggul kecil dan memakai parfum mawar?”

Sekali lagi aku mengangguk. “Sepertinya mbak telah bertemu dengan Tuan Putri dari Rembang.”

Aku terdiam. Tuan Putri dari Rembang?

Rembang?

Tunggu, apakah itu…

 “Apakah Tuan Putri yang itu?” aku harus meyakinkan pendapatku.

“Benar Tuan Putri yang itu,” Bapak itu mengangguk. “Kita semua mengenalnya, khususnya para perempuan di Indonesia.”

Ya Tuhan apakah gerangan ini pertanda?

Melihat kebingunganku, Bapak itu kemudian memberitahuku bahwa perpustakaan ini dulunya adalah sumbangan dari Tuan Tanah yang merupakan ayah dari perempuan tersebut. Banyak sekali peninggalan dari Tuan Tanah yang kemudian menjadi koleksi istimewa tempat ini.

Pun tak terkecuali salinan teks asli buku yang melegenda tersebut. Buku yang berisikan kumpulan surat berbahasa Belanda yang di tujukan kepada para sahabat di negeri Kincir tersebut. Buku yang meyakinkan bahwa setelah kegelapan akan selalu terbit terang.

“Mbak nya lagi punya masalah ya?” suara bapak itu kembali memasuki kedua gendang telingaku.

“Ya begitulah Pak,” jawabku singkat.

“Beliau memang sukanya mendatangi pengunjung di sini yang lagi punya masalah mbak. Terutama pengunjung wanita,” jelas Bapak tersebut.

“Kenapa ya Pak kok seperti itu?”

Lhah mbak nya tadi gimana to pas ketemu? Apakah ada sesuatu yang menarik?” tanya bapak tersebut sembari  melepaskan sabuk yang berisi pisau dan tongkat khas sekuriti.

Aku mengingat dengan jelas pertemuan kami. Meskipun aku sering melihatnya namun baru hari ini kami berbincang. Kemudian aku tersadar, mungkin ia mendatangiku untuk memberikan semangat. Bahwa apa yang aku alami saat ini tidak seberat apa yang ia alami dulu.

“Terima kasih pak informasinya,” ujarku berpamitan. Bapak sekuriti itu mengangguk dan berjalan meninggalkan pos nya. Sepertinya mau shalat Maghrib di mushola belakang.

Aku melangkahkan kaki ku kembali ke dalam gedung Perpustakaan. Aku kemasi barang – barangku dan segera mungkin untuk pulang setelah shalat Magrib. Entahlah, perasaanku lagi tidak menentu.

Semenjak saat itu aku tidak pernah lagi melihatnya duduk di sudut area buku Belanda. Dan masalahku pun berangsur membaik. Tesisku selesai dan hingga aku mendapat gelar Sarjana pun aku tidak pernah berjumpa dengannya lagi.

Mungkin ia sedang mendatangi perempuan lain yang sedang dirundung masalah sepertiku. mendengarkan keluhan mereka dan menguatkan mereka. Meyakinkan bahwa kita sebagai perempuan juga harus tegar dan percaya bahwa selalu akan ada cahaya setelah kegelapan menghadang.

.

.

.

*** Inspired from “Minum Teh Bersama Kartini” by Suryatini N. Ganie ***

Satu pemikiran pada “[ONESHOT] DÉJÀ VU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s