[ONESHOT] Squabbling Likely: The Choice – END

tumblr_my2n1gQMyQ1sjs1fao1_500

Waktu tidur selalu berlalu dalam sekejap. Kris membuka matanya perlahan dan mengerjap pelan. Kemudian ia bergulung ke dalam selimut dan menggulung dirinya seperti kepompong. Beberapa hari ini suhu udara di Seoul mencapai minus dua derajat, dan membuat siapa saja menjadi enggan untuk keluar dari kungkungan kamar yang hangat, tidak terkecuali Kris.

Namun apa daya, jadwal EXO untuk bulan ini sangatlah padat. Dengan penuh rasa tidak ikhlas, Kris menyibak selimut favoritnya dan terduduk di pinggir tempat tidur. Ia terdiam sejenak untuk mengumpulkan nyawa yang baru setengah terkumpul.

Sedikit meraba-raba, ia meraih botol air mineral yang selalu tersedia di atas nakas samping tempat tidurnya. Dalam lima kali teguk air di dalam botol itu sudah berpindah ke dalam perut Kris. Setelah mengerjapkan mata untuk yang ke sekian kalinya, pada akhirnya Kris memutuskan untuk beranjak keluar dari dalam kamar.

Jam dinding masih menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit di pagi buta, namun keriuhan di dalam dorm sudah seperti pasar malam. Kris menyipitkan mata, beradaptasi dengan suasana benderang di ruang tengah.

Sebagai informasi, dorm EXO yang baru ini terdiri dari dua tingkat dan tiga kamar mandi. Satu di lantai atas dan dua di lantai bawah. Karena kamar kris terletak di lantai satu maka Kris harus mengantri mandi dengan dua kelompok kecil lainnya. Sedikit tersaruk, Kris berjalan mengambil handuknya dan mulai mengantri mandi.

DOK! DOK! DOK!

“KIM JONGIN KELUAR KAU HAH! Ini sudah dua puluh menit, apa yang kau lakukan di dalam? Menggosok berapa kalipun kau tetap saja hitam!”

Luhan menggedor pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga. Dan pintu kamar mandipun terbuka, menampilkan sosok Jongin dalam keadaan rambut dan badan masih basah dengan handuk besar bergambar Pororo melilit pinggangnya.

“Kau cerewet sekali hyung, rasakan ini.” Jongin meraupkan tangannya yang basah ke wajah Luhan kemudian memitingnya hingga Luhan menjeritkan sumpah serapah.

Kris melihat adegan ini dengan mata menyipit dengan mulut setengah terbuka. Ia berjalan kearah kamar mandi, menyingkirkan handuk Hello Kitty milik Luhan yang tergantung di kenop pintu, kemudian masuk dan menguncinya dari dalam.

“WU YIFAN DASAR KAU NAGA GILA! KELUAR KAU SEKARANG JUGA! AKU SUDAH MENGANTRI DARI TADI DAN KAU MENYEROBOT SEENAKNYA!”

Luhan menendang pintu kamar mandi dan hanya dijawab oleh siulan riang Kris dari dalam.

Satu jam kemudian, Kris sudah duduk dengan tampannya di dalam van. Meskipun rambut pirangnya masih berbelah tengah dan kusut serta mencuat kesana kemari, ia yakin bahwa ia masih terlihat tampan.

Seperti biasa, Kris duduk di pinggir jendela. Kali ini ia satu van dengan Luhan, Baekhyun dan Chen. Dan demi seluruh bola basket yang ada di dunia, Kris benar-benar baru tahu bahwa mulut pria juga ada yang diciptakan khusus untuk mengomel.

Sejak tadi pagi, mulut Luhan masih tidak berhenti mengoceh. Ia mengomentari segala hal, mulai dari jadwal, pakaian hingga suhu udara yang membuat hidungnya memerah dan membuatnya terlihat seperti rusa natal betulan. Sedangkan Baekhyun dan Chen dengan sukarela malah ikut menanggapinya. Mereka dengan senang hati membuat omelan Luhan menjadi bahan untuk membully pria berparas cantik tersebut.

Selama perjalanan menuju jadwal mereka pagi ini, Kris hanya melihat ketiga temanya itu saling melontarkan candaan, sedangkan ia hanya memasang wajah datar seperti biasanya. Namun sebenarnya dalam hati ia cukup terhibur.

Bulan Desember ini, EXO comeback dengan mini album spesial natal. Bisa ditebak, tema kostumnya tidak jauh dari suasana natal. Namun kali ini Kris sedikit lega bahwa mereka akan memakai pakaian yang menurut Kris cukup lucu.

Kemeja panjang, celana jeans, dasi kupu-kupu dan suspender. Khusus untuk suspender, mereka akan memainkan benda itu dalam dance perform kali ini. Kris sudah belajar dance intens dengan Lay. Karena dance kali ini mengandung unsur meliuk-liukan pelvic yang disinyalir mampu mengundang histeria masal secara efisien, maka Kris ingin tampil sempurna untuk itu.

Kris memalingkan wajah menghadap jendela. Menikmati pemandangan pagi jalanan Seoul yang kali ini cukup lenggang. Dan entah mengapa pikirannya kembali melayang-layang pada kejadian beberapa waktu yang lalu.

Kris ingat betul bahwa dulu, ketika EXO pertama kali debut, ia sempat merasa bahwa ada yang salah dengan jalan hidupnya. Memang benar bahwa ia ingin sekali menjadi artis, oleh karena itu ketika pihak agensi menawarkan dirinya untuk menjadi trainee, ia bersedia.

Sebenarnya impiannya adalah menjadi pemain basket professional. Namun melihat kesempatan yang ditawarkan kepadanya bukan dari bidang itu, Kris berpikir kembali. Dengan menjadi artis ia bisa mempunyai penghasilan sendiri, dan itu adalah salah satu cita-citanya.

Meskipun ia datang dari keluarga sangat mampu namun akan lebih menyenangkan jika ia bisa menghasilkannya sendiri. Dan kala itu ibunya juga merestui jalan yang akan dipilihnya. Bagi Kris, restu ibunya adalah segalanya dalam hidup dan ia mempercayai hal itu.

Ibu Kris pada awalnya sempat ragu dengan keputusan anak laki-laki kesayangannya itu. Apalagi Kris harus tinggal jauh dari keluarga dan menetap di Korea. Sekolah Kris pun terpaksa harus dimutasi dan disesuaikan disana. Namun Kris berhasil meyakinkan ibunya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa meskipun ia harus meninggalkan sekolahnya untuk sementara hal itu tidak akan terlalu berpengaruh.

Kris adalah anak yang cukup pintar dan ia gemar membaca, jadi ia yakin bahwa pendidikan sekolah itu pada dasarnya hanyalah formalitas untuk mendapatkan bukti dari apa yang ia telah pelajari.

Jadi jika belajar hal yang kurang lebih sama, yang menjadi perbedaan hanyalah ia tidak mendapatkan bukti yang bisa ditunjukkan kepada masyarakat. Sedangkan selebihnya mungkin ia bisa jauh lebih sukses daripada orang seusianya.

Namun ketika pada suatu ketika Kris merasa bahwa mungkin memang keputusan yang ia ambil bisa saja salah, ia sempat merasa tidak mempunyai pegangan hidup. Semuanya serba salah dan serba menekan. Kris frustasi hingga ia menjadi sedikit gegabah. Ia memotong cepak rambutnya, mengecatnya kembali ke warna alami rambut asalnya serta pergi pulang ke rumah dengan alasan seadanya.

Kala itu ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi di kedepannya. Ia merasa gelap mata dan apa yang ingin ia lakukan hanyalah kembali ke tempat dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Tempat dimana ia tidak dituntut untuk menjadi orang lain hanya karena semata-mata untuk menghibur mereka.

Ia lelah, ia muak dengan segala basa-basi itu. Kris merasa bahwa semuanya adalah kepalsuan dan ia tidak mau peduli lagi. Baik dengan perusahaan, fans maupun rekan-rekan satu grupnya. Ia benar-benar merasa penat dan perlu untuk berpikir ulang.

Sesampainya di rumah, ia disambut dengan wajah bingung Ibunya. Kris memang pernah bercerita mengenai seperti apa pekerjaanya namun ia tidak pernah bercerita bahwa keadaannya sampai separah itu. Saat itu ibunya hanya memberi tepukan singkat sebagai rasa simpati kemudian membiarkan Kris untuk memasuki kamarnya untuk beristiahat seharian.

Keesokan harinya, Kris hanya mengobrol ringan dengan ibunya. Tampaknya sang ibu mengerti betul bahwa Kris sedang tidak ingin ditanya mengenai kedatangannya yang serba mendadak kembali ke rumah.

“Menurut Ibu, pekerjaan apa yang paling enak di dunia?”

Pertanyaan Kris barusan membuat Ibunya yang kala itu sedang menikmati kopi pagi mendongak menatap putra kesayangannya itu.

“Menurutmu?”

“Menurutku pekerjaan yang paling enak di dunia adalah pekerjaan yang tidak melelahkan, sesuai dengan apa yang kita sukai, berpenghasilan banyak dan bisa keliling dunia.”

“Apa contohnya kalau begitu.”

Kris tampak berpikir sebentar. “Entahlah yang pasti aku selalu iri melihat apapun yang menurutku menarik. Misalnya saat melihat pemain tim favoritku di NBA. Atau saat melihat seorang pengacara handal, diplomat negara ataupun pilot. Aku lihat pekerjaan mereka sangat menyenangkan.”

Ibu Kris hanya tersenyum. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, bahwa pekerjaan mereka semua itu menyenangkan?”

“Yah  misalnya kalau jadi pemain NBA, aku bisa bermain basket sepuasku, berlaga di lapangan basket paling keren di dunia dan dibayar mahal.”

“Kalau boleh ibu simpulkan, dalam pikiramu pekerjaan yang paling menyenangkan adalah pekerjaan yang terlihat hebat, dipandang tinggi oleh masyarakat serta berpenghasilan hingga ribuan Dollar. Benar begitu?” Kris mengangguk.

“Kalau menurut ibu, pekerjaan yang paling enak di dunia adalah pekerjaan dimana kita, sebagai pelaku kerja, sudah sukses didalamnya.”

Ibu Kris menyingkirkan cangkir kopi di depannya dan meraih tangan Kris kemudian menggenggamnya. “Kris dengarkan ibu, apa yang kau lihat itu adalah masa di mana mereka sudah sukses. Sudah bersinar, sehingga saat ini, saat dimana kau melihat ini semua, mereka hanya tinggal memetik hasil kerja keras mereka selama ini.”

Pada awalnya Kris menganggap bahwa apa yang ibunya katakan itu adalah sebuah rahasia umum. Ia sudah tau bahwa mereka semua yang ia kagumi sedang berada di puncak karir mereka. “Namun kau juga harus melihat proses dimana mereka bekerja keras untuk menggapai itu semua. Proses itulah yang tidak boleh kau lewatkan.

ibu tahu alasanmu mengapa kau kembali pulang dengan tiba-tiba tidak lain karena kau merasa ragu dengan jalan yang pilih.”

Kris mendongak. Ia tahu bahwa cepat atau lambat memang ibunya akan membahas masalah ini.

“Kalau boleh ibu tahu apa alasanmu hingga terbesit pikiran untuk tidak kembali ke Korea dan memutuskan kontrak secara sepihak.”

Kris terdiam.

“Kris lihat ibu, kau tahu dengan pasti bahwa Ibu tidak akan pernah menghakimi apa yang kau putuskan bukan?”

Kris mengangguk. “Aku merasa lelah bu. Semuanya serba menghimpitku. Dan pandangan orang juga banyak yang memadang remeh padaku. Dan yah jujur saja aku juga tidak terlalu nyaman dengan rekan satu grupku. Aku merasa tidak terlalu cocok bergaul dengan mereka, padahal kami diharuskan bersama-sama dalam kurun waktu yang panjang.

Dan itu semua belum seberapa jika dibandingkan dengan tuntutan perusahaan. Mereka mendapukku sebagai leader namun aku merasa bahwa aku belum pantas berada di posisi itu. Dalam artian memang aku tidak mempunyai tujuan kearah sana, atau bisa dibilang bahwa sebenarnya aku tidak perduli.

Ibu tahu sepanjang menjadi trainee, aku juga menerima banyak sekali sindiran dan kritikan yang berbau rasis. Terutama bagi mereka para trainee Korea. Mereka menganggap bahwa aku dan trainee lain yang berasal dari luar negara mereka seperti orang yang ingin merebut kesempatan mereka untuk debut.

Dan yang paling parah adalah ketika aku terpilih untuk debut. Banyak yang menyangsikan kemampuanku. Mereka menganggap bahwa aku itu debut karena beruntung bukan karena aku mampu. Karena mereka sedang mencari sosok figure yang kuat sebagai leader dan karena perusahaan sedang melebarkan sayap ke China maka terpilihlah aku.

Itu rasanya sangat menyakitkan bu, aku belum pernah merasakan ketidakberdayaa seperti ini. Belum lagi dengan para fans fanatik. Mereka benar-benar tidak mau melepaskan aku. Mereka melakukan segala hal untuk mengetahui tentang kehidupanku, dan aku merasa seperti tidak mempunyai privasi.

Menanggapi hal itu manajemen hanya menyuruhku untuk bersabar dan tetap menaati peraturan yag berlaku. Aku tidak boleh ini tidak boleh itu. Belum lagi dengan para senior yang sepertinya gila hormat, Aku sudah lelah dengan segala macam bentuk ke-senioritasan yang ada.  Menurutku kita sama-sama bekerja untuk tujuan yang sama mengapa mereka harus seperti itu.”

Kris benar-benar tidak bisa membendung apa yang ada dalam hatinya. Ia mencurahkan segala hal yang menghimpitnya akhir-akhir ini. Selesai berbicara, ia hanya menunduk dan beberapa saat kemudian terdengar isakan kecil.

“Aku sudah tidak mau seperti ini lagi. Mungkin memang aku salah namun akan lebih baik jika aku tidak kembali. Toh mereka juga akan lebih baik tanpaku, tanpa orang yang menurut mereka tidak bisa apa-apa.”

Sang ibu membelai kepala putranya dan mereka tenggelam dalam keheningan. “Apakah kau yakin mereka semua menganggapmu seperti itu? Apakah kau pernah mendengar mereka berbicara sendiri padamu?”

Kris menggeleng. “Kadangkala yang namanya hidup itu memang tidak selalu mudah. Mungkin kau sekarang hanya kaget saja dengan keadaan yang menimpamu tapi apa kau tidak pernah berfikir sebaliknya?

Seperti yang kamu katakan bahwa memang proses itu tidak selalu mudah. Dan ini lah buktinya. Kamu tahu, terkadang ibu berpikir bahwa kita bekerja di perusahaan milik orang lain sama seperti ketika kita menjalin hubungan dengan lawan jenis.”

Kris mengernyit. “Kau tidak percaya?” Kris menggeleng. “Sekarang coba kamu pikir, ketika awal perusahaan berniat merekrutmu sebagai trainee tentu mereka melakukan pendekatan dengan tawaran yang menarik bukan?

Sama hal nya ketika kamu mulai mendekati seorang gadis, semua yang terlihat adalah hal yang menyenangkan. Ketika pada akhirnya kamu resmi menjadi trainee itu sama artinya dengan ‘pacaran’ dengan perusahaan tersebut. Begitupun ketika kamu menerima tawaran untuk debut dan menandatangani sebuah kontrak yang panjang, itu sama artinya kamu sudah menerima ‘lamaran’ perusahaan itu untuk ‘menikah’ denganmu.”

Kris mendengarkan nasehat ibunya dengan seksama. Memang selama ini ia tidak pernah membayangkan hingga sejauh itu. Bisa debut saja itu sudah suatu karunia yang sangat luar biasa. Persaingan ketat dengan sesama trainee tidak bisa dibilang sesuatu hal yang menyenangkan.

Ibunya juga mengajarkan ia akan teori sebuah kotak kado. Dimana menjalin hubungan dengan orang lain itu sama seperti saat kita membuka sebuah kado. Sisi luarnya pasti sangat menarik dan membuat kita ingin cepat-cepat mengetahui isinya. Namun setelah mengetahui isinya hanya ada dua kemungkinan, kita suka atau kita tidak suka.

Sama seperti saat kita bekerja, mungkin pada awalnya banyak tawaran menggirukan yang diberikan namun dalam perjalanan pasti aka nada banyak kejutan yang menanti. “Namun sebagai laki-laki Kris kamu juga harus bisa bertanggung jawab, termasuk dengan segala keputusan yang kamu ambil. Semua pasti ada resikonya, dan ingat tidak ada di dunia ini hal yang sempurna, semua selalu ada kekurangan dan kelebihannya. “

“Tapi aku tidak berbakat bu, aku hanya suka menyanyi namun ternyata aku tidak berbakat. Apalagi untuk menari. Jujur aku sempat merasa malu dikala pertama kali debut. Kostum panggung kami sangat norak dan kami tetap harus tetap tersenyum untuk itu. Aku merasa sangat terjebak.” Kris memberengut.

“Kamu harusnya bersyukur apapun yang kalian kenakan, toh semua fans-fans itu tetap saja histeris. Dan tidak ada salahnya denga keberuntungan, buat itu sebagai semangatmu dan buktikan bahwa kamu memang bisa. Ingat Kris, tidak ada satupun di dunia ini kerja keras yang tidak membuahkan hasil.

Mungkin mereka memang berbakat, namun kerja keras akan selalu mengalahkan bakat ketika bakat itu tidak bekerja keras. Dan ketika semua sudah dilakukan namun tetap tidak ada hasil mungkin memang belum berjodoh dengan pekerjaan itu.

Janganlah pesimis, ibu yakin kamu akan bisa melewati ini semua. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah nikmati pekerjaanmu. Jadilah dirimu sendiri dan temukan apa yang bisa membuatmu bahagia.”

Kris tersenyum. Mungkin benar dengan apa yang dikatakan oleh ibunya, ia seharusnya bisa lebih bijak menyikapi ini semua. Tidak semua orang akan menyukainya namun juga tidak semua orang juga akan membencinya. Semua tidak ada yang sempurna itu sudah hukum alam.

Sekembalinya ke Korea, ia disambut dengan kemarahan Jongin akan kepergiannya yang serba mendadak dan menyebabkan tertundanya jadwal comeback EXO. Kris merasa maklum dengan hal itu, namun apa yang dikatakan ibunya terbukti benar.

Siang itu kala mereka berdua belas duduk untuk berdamai setelah dini harinya terjadi perselisihan pendapat cukup sengit dengan Jongin, ia secara terang-terangan meminta maaf. Ia tahu ia salah namun ia dengan jujur meminta pengertian.

Dan sejauh ini semua berjalan baik-baik saja. Memang hubungannya dengan Jongin masih jauh dari kata akrab namun paling tidak mereka tidak saling melemparkan kata-kata sinis seperti saat itu. Satu lagi pelajaran yang Kris dapatkan dari kejadian ini,

Mungkin ketika kita tidak bisa melakukan pekerjaan yang kita sukai, maka yang bisa dilakukan adalah menyukai pekerjaan yang kita kerjakan. Dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. 

**END**

Note: ini hanya sebuah FF jangan dianggap terlalu serius ^^

FF ini juga sudah terpublish di Saladbowl

yopiyoll

 

 

3 pemikiran pada “[ONESHOT] Squabbling Likely: The Choice – END

  1. aku pikir yang siang harinya diskusi mereka bakal dibahas hahaha, ini moral value-nya banyak banget, terutama buat para fresh greaduate yang berstatus job seeker, HAHAHAHA.
    tapi kayanya kakak agak keburu-buru ya nulis yang ini? entahlah yang tengah ke bawah kaya kecepetan alurnya kak, atau cuma perasaanku aja. at least kris sama jongin udah damai lagi hahaha, dan luhan yang tukang ngomel yap aku bisa bayangin dia non stop komentar melulu apa apa dikomentarin xD

  2. kepaku TT kris disini kayaknya dekeet bgt sama mamak nya, terus kayaknya nuruuut bgt sama mamaknya. duh anak baik, ayo pulang kesini ayok kurkurkur ;_;

  3. banyak banget quotes bagus yang bisa dijadikan amanat di sini!! ah :””””””
    cant say no more, sampe2 mataku berair baca tiap dialog antara fanfan dan mamanya..
    suka bangettt🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s