[NOTE] #menolaklupa 12 Mei 1998 Reformasi untuk Indonesia yang (katanya) Lebih Maju

Jangan lupakan 12 Mei

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya

Bagi sebagian orang sejarang hanyalah bagian dari kehidupan yang telah lalu. Namun  untuk sebagian lainnya, sejarah adalah fase pembelajaran dari masa lalu yang berkaitan erat dengan masa depan.

Hari ini tanggal 12 Mei lima belas tahun yang lalu merupakan salah satu hari bersejarah bangsa Indonesia. Hari dimana titik balik bangsa Indonesia benar-benar dibuktikan. Hari ini dimana banyak darah ditumpahkan untuk mengejar sesuatu yang disebut kebebasan atau reformasi.

Menuliskan ini setelah melihat hastag  #menolaklupa  yang menjadi pembahasan panas di timeline twitter pagi hari ini. Waktu itu mungkin aku masih berusia 10 tahun. Masih duduk di bangku sekolah dasar. Yang aku tahu hanyalah tidak boleh berkeliaran di luar rumah. Banyak toko-toko tutup dan di televisi tidak berhenti menyiarkan demonstrasi.

Kerusuhan terjadi dimana-mana. Tindak kejahatan seolah diperbolehkan. Seluruh penjuru Indonesia hanya sibuk meneriakkan kata “Reformasi!!!!” yang ku tidak tahu artinya. Dan puncaknya terjadi ketika pemerintah menghentikan siaran “Dunia dalam Berita” pada tanggal 20 Mei 1998 yang kala itu menjadi siaran wajib di slot  prime time televisi nasional maupun swasta.

Masyarakat menjadi semakin rancu akan berita yang ada. Media seolah berlomba-lomba mengumpulkan berita yang mereka lihat tanpa memperdulikan etika pers kala itu. Mereka bilang itu era reformasi era semuanya keterkekangan Orde Baru telah berakhir.

Semua yang aku tuliskan disini dirangkum dari bahasan  #menolaklupa yang ditulis oleh @haris_azhar jurnalis The Jakarta Post yang merupakan salah satu saksi hidup peristiwa 12 Mei 1998 di kampus Trisakti. Bersamaan dengan bahasan yang sama oleh @Dandhy_Laksono jurnalis investigasi yang ikut mengabadikan peristiwa bersejarah itu serta @KontraS sebuah organisasi yang bergerak di bidang Hak Asasi Manusia yang menolak kekerasan dan merawat kebebasan dan beberapa sumber terkait.

Pagi itu demo dimulai antara jam sepuluh hingga sebelas. Saat itu suasanga cukup terkendali. Sebagian pendemo berasal dari mahasiswa yang tergabung dalam fraki penolak Soeharto. Yang menarik kala itu demo ibarat agenda resmi kampus. Dimana beberapa hari sebelumnya telah disebar edaran untuk mengosongkan parkiran kampus pada hari itu.

Bertempat di pelataran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai dengan pengumpulan segenap aktivis Trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.

Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia sekarang ini. Aksi orasi (pidato) serta mimbar bebas[i] dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.

Mahasiswa, dosen dan pengurus yayasan konsolidatif  – yayasan yang disiyalir membantu banyak – melakukan aksinya dengan tertib. Meskipun ada beberapa dosen yang tetap menjalankan perkuliahan seperti biasa. Awalnya demo dilakukan di dalam kampus. Baru pada siang harinya mahasiswa setuju untuk keluar dari area kampus

Namun saat itu sebagaimana intruksi Wiranto yang menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata (PANGAB) pada saat itu, bahwa mahasiswa dilarang untuk bergerak keluar kampus. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.30 siang dimana mahasiswa bergerak menuju Gedung Nusantara. Terjadi negosiasi dengan pihak POLRI. Namun kelompok PRRM (Pasukan Penindak Rusuh Massa) yang kala itu bergerak diwabah naungan ABRI  sudah terlihat membuat barikade pemblokiran dengan TNI dibelakang barisan. Semua dilengkap dengan tameng, alat pukul bahkan senjata berat.

Situasi mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas dan menuntut untuk turun melakukan long march[ii] ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman. Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat turun ke jalan.

Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Universitas Tarumanegara. Long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.

Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan negoisasi dengan pimpinan komando aparat (Dandim Jakarta Barat, Letkol (Inf) A Amril, dan Wakapolres Jakarta Barat Timur Pradopo). Sementara negoisasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk terus maju. Di lain pihak massa yang terus tertahan tak dapat dihadang oleh barisan satgas samping bergerak maju dari jalur sebelah kanan. Selain itu pula masyarakat mulai bergabung di samping long march.

Tim negoisasi kembali dan menjelaskan hasil negoisasi di mana long march tidak diperbolehkan dengan alasan oleh kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Dilain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk. Saat itu banyak wartawan yang sudah naik ke atap gedung MPR/DPR untuk mengambil gambar. Mereka menduga akan ada kericuhan.

Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Aksi damai mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan mahasiswa. Sementara rekan mahasiswi membagikan bunga mawar kepada barisan aparat. Salah satunya dilakukan oleh artis Wanda Hamidah. Sementara itu pula datang tambahan aparat dari Kodam Jaya dan satuan kepolisian lainnya.

Negoisasi terus dilanjutkan dengan komandan (Dandim dan Kapolres) dengan pula dicari terobosan untuk menghubungi MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan dengan diselingi pula teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian. Walaupun hujan turun massa tetap tak bergeming. Yang terjadi akhirnya hanya saling diam dan saling tunggu. Sedikit demi sedikit massa mulai berkurang dan menuju ke kampus. Polisi memasang police line[iii]. Mahasiswa berjarak sekitar 15 meter dari garis tersebut.

Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negoisasi di mana hasil kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE dan Dekan FH Universitas Trisakti, Adi Andojo SH akhirnya massa mau bergerak mundur. Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan mahasiswa agar kembali ke dalam kampus.

Mahasiswa bergerak masuk kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Kapolres dan Dandim Jakbar memenuhi keinginan mahasiswa. Kapolres menyatakan rasa terima kasih karena mahasiswa sudah tertib. Mahasiswa kemudian membubarkan diri secara perlahan-lahan dan tertib ke kampus. Saat itu hujan turun dengan deras.

Mahasiswa bergerak mundur secara perlahan demikian pula aparat. Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernama Mashud yang mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar.

Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa. Pada saat petugas satgas serta Kepala kamtibpus Trisakti menahan massa dan meminta massa untuk mundur dan massa dapat dikendalikan untuk tenang. Kemudian Kepala Kamtibpus mengadakan negoisasi kembali dengan Dandim serta Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun aparat untuk sama-sama mundur.

Memasuki pukul lima sore, keadaan semakin mencekam. Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di antara barisan aparat ada yang meledek dan mentertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Universitas Trisakti.

Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air mata dihampir setiap sisi jalan, pemukulan dengan pentungan dan popor, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual terhadap para mahasiswi. Termasuk Ketua SMUT (Civitas Akademika Trisakti) yang berada di antara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru karet dipinggang sebelah kanan.

Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol. Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar massa mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa mahasiswa dan mahasiswi lalu membiarkan begitu saja mahasiswa dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan. Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakannya ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus.

Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat tembakan ada lima belas orang. Yang luka tersebut memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus.

Adapun nama para korban yang meninggal dunia adalah Elang Mulia Lesmana (Fakultas Arsitektur, angkatan 1996), Alan Mulyadi (Fakultas Ekonomi, angkatan 96), Heri Heriyanto (Fakultas Teknik Industri Jurusan Mesin, angkatan 95) luka tembak di punggung, Hendriawan (Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, angkatan 96) luka tembak di pinggang, Vero (Fakultas Ekonomi, angkatan 96), dan Hafidi Alifidin (Fakultas Teknik Sipil, angkatan 95) luka tembak di kepala.[iv]

Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda-beda menuju RS. Sekitar 200 mahasiswa masih menunggu di sepanjang koridor RS Sumber Waras, menjaga rekan-rekan mereka yang masih dirawat di Unit Gawat Darurat, maupun menjaga jenazah rekan mereka yang disemayamkan. Suasana memilukan terlihat di sekitar kamar jenazah yang dipenuhi jerit dan isak tangis keluarga korban.

Beberapa saat kemudian rekan mahasiswa kembali panik setelah melihat ada beberapa aparat berpakaian gelap di sekitar hutan (parkir utama) dan sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. Mahasiswa berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi.

Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar adari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing- masing. Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.[v]

Walau masih dalam keadaan ketakutan dan trauma melihat rekannya yang jatuh korban, mahasiswa berangsur-angsur pulang. Yang luka-luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Saat itu waktu sudah mendekati tengah malam. Keesokan harinya, pada tanggal 13 Mei 1998, perwakilan SMUT juga mengeluarkan Press Release yang berkaitan dengan tujuan demonstrasi mereka dan himbauan terhadap masyarakat agar terus melanjutkan perjuangan mereka menuju reformasi yang sesungguhnya.

Peristiwa ini lah yang kemudian menjadikan Trisakti disebut menjadi Kampus Reformasi. Dan hingga saat ini setiap tanggal 12 Mei selalu diadakan acara untuk mengenang peristiwa bersejarah ini. Mungkin bagi yang saat itu belum lahir atau tidak mengalami kejadian sesungguhnya hanya akan menganggap hal ini sebagai angin lalu. Namun tinta sejarah dengan jelas menorehkan bahwa apapun yang kita nikmati saat ini tidak akan pernah terjadi tanpa masa lalu yang berjuang untuk itu.

 


[i] kegiatan penyampaian pendapat di muka umum yang dilakukan secara bebas dan terbuka tanpa tema tertentu. (Pasal 1 Angka 6 UU Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum).

[ii] Iring-iringan massa yang berjarak panjang lebih dari 12 kilometer. Diambil dari perstiwa Guomindang’s “annihilation campaigns.” di China pada tahun 1934

[iii] Garis batas resmi

[v] Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Trisakti bersumber sumber: Siaran Pers Senat Mahasiswa Trisakti dan Arsip berita Kompas 13 Mei 1998

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s